Anak Muda, Masa Depan Politik Indonesia

DPR RI DPRD Editor Generasi Muda Headline Indeks Majalah Editor Nusantara PAN Partai Amanat Nasional Politik Politik Indonesia Sulawesi Selatan Wajo
Generasi muda. Foto : Radar Jogja.
WAJO, EDITOR.CO.ID- Setidaknya 20 tahun ke depan, kaum akademisi dan intelektual akan mendominasi sumber daya kepemimpinan bangsa. 20 tahun ke depan, para pemimpin bangsa ini akan didominasi oleh kaum akademisi. Karena elit politik yang sekarang menjabat, tentu akan segera pensiun dan digantikan oleh generasi berikutnya.
Anggota DPRD Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, Andi Ratulangi memprediksi, Partai Amanat Nasional (PAN) berpotensi menjadi produsen kader-kader muda berkualitas dalam kancah perpolitikan Indonesia. Sudah terbukti, kebanyakan yang berhasil menduduki posisi penting pemerintahan daerah maupun pusat saat ini adalah anak-anak muda. 
“Ya, tentu saja selain karena latar belakang sejarahnya, PAN lahir dari kaum akademisi dan intelektual aktivis muda,” ujar anggota legislatif termuda di Kabupaten Wajo itu kepada tim #KaderBackpacker #SabangMerauke Sekolah Politik Kerakyatan (SPK) PAN yang menemuinya, Selasa (14/06/2016) lalu.
Bukan hal yang kebetulan jika Andi Ratulangi, dalam usianya yang baru 24 tahun itu sudah berhasil menduduki kursi wakil rakyat. Untuk memenangkan pertarungan dalam Pemilu 2014 lalu, ia menerapkan strategi yang disebutnya sebagai politik realistis.
Strategi politik yang ditawarkannya itu mendasarkan pada pengalaman dan pengamatannya selama dua tahun sebelum akhirnya berhasil menduduki kursi DPRD. Menurutnya, strategi Politik yang umumnya digunakan dalam pertarungan politik saat ini adalah tiga hal, yakni kualitas, kapasitas dan isi tas.
 
“Yang terakhir inilah yang paling banyak digunakan terutama di desa. Mengapa? Karena kebanyakan para caleg hanya memenuhi keinginan, bukan kebutuhan,” ungkap penyandang gelar Sarjana Hukum ini.
Namun, strategi isi tas atau bahasa populernya money politic ini tidak berlaku di kota. Mayoritas orang kota adalah kalangan berpendidikan dan sudah cukup mapan.
Mereka tidak butuh lagi dengan uang-uang seperti itu. Orang-orang di kota cenderung tidak terpengaruh dengan isu-isu ‘kampanye hitam’ atau yang semacamnya. Mereka cukup cerdas menilai para kandidat.
Dikatakan Andi Ratulangi, meski penting, isi tas bukanlah yang utama.  Ibarat sebuah mesin, isi tas ini adalah penggeraknya. Uang adalah modal kedua setelah kemampuan dan analisa politik. 
“Tapi, kita harus bedakan antara money politic dan cost Politic. Money Politic cenderung kepada politik jalan pintas. Tidak ada seninya dalam berpolitik. Ini, berbeda dengan biaya atau cost politic,” jelasnya lagi pada #KaderBackpacker.
Ada tiga hal, yang menurut Andi Ratulangi, penting juga untuk diterapkan dalam strategi pertarungan politik tingkat pilkada bahkan nasional. Bila ada satu tokoh dalam masyarakat, langkah selanjutnya adalah jadikan dia sebagai figur, bila dia sudah menjadi figur yang berpengaruh dalam masyarakat, langkah terakhirnya adalah cari momentum.
“Ini merupakan strategi jitu yang terbukti berhasil dipakai oleh Bapak Presiden kita sekarang, Jokowi,”  ungkap Andi Ratulangi dalam perbincangan dengan tim #KaderBackpacker yang berlangsung serius tapi santai, sore itu. 
Yang tidak kalah penting dalam politik realistis adalah bergerak berdasarkan analisis data yang ril. Pengalaman Andi Ratulangi cukup mencengangkan. Betapa tidak, tiga minggu sebelum penghitungan suara, dia sudah mendeklarasikan kemenangannya.
Hal ini dapat dilakukannya karena ia sudah bisa memprediksi dengan cukup presisi, jumlah suaranya. Hasil olah data statistiklah yang membuat dia yakin untuk melakukan itu. 
Ia mengawali langkah dengan membaca data hasil pemilihan umum tahun 2004, 2009, dan 2014. Kemudian dianalisa. Setelah itu, Andi Ratulangi bergerilya mencari simpul tokoh di masing-masing daerah pemilihannya. Ia juga mempelajari data tiap-tiap Tempat pemungutan suara (TPS). Setelah itu dia klasifikasikan suaranya yang benar-benar konkrit.
“Bersama tim, saya blusukan mengolah data-data itu, tuturnya.
Yang menarik, Andi Ratulangi memasang sendiri poster, banner, dan baliho hingga ke desa-desa. Saat itu ia sempat juga menjadi korban kampanye hitam oleh saingan politik yang masih kerabatnya sendiri, namun itu dibalasnya dengan cantik. Ia  mendorong kompetitor di kantong-kantong suara pesaingnya. Ini terbukti efektif, untuk menaikkan elektabilitasnya.

“Saya akan memenuhi kebutuhan masyarakat, bukan keinginan masyarakat. Yang penting sentuh hati orang. Dan gunakanlah kejujuran, maka kamu akan bisa menggapai apa yang kamu harapkan,” kata Andi Ratulangi memungkasi diskusinya dengan tim #KaderBackpacker SPK PAN.(Jamal/Khairul Fahmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.