Mengubah Kampus Jadi "Sandbox" ala Drama Korea "Start-Up" - Mediajakarta.com | Situs Berita Jakarta Terkini

Post Top Ad

Mengubah Kampus Jadi "Sandbox" ala Drama Korea "Start-Up"

Mengubah Kampus Jadi "Sandbox" ala Drama Korea "Start-Up"

Share This

Oleh : 
Adining Tyas* 

Beberapa waktu belakangan jagad maya dihebohkan dengan perseteruan antara warganet yang tergabung di 'tim' Nam Do-san versus 'tim' Han Ji-pyeong yang merupakan tokoh dalam drama Korea Start-Up. Terlepas dari perseteruan para pecinta drama Korea soal siapa yang lebih pantas bersama Seo Dal-mi, salah satu hal menarik yang muncul di Start-Up ialah keberadaan Sandbox.

Dalam cerita Start-Up, Sandbox menjadi wadah bagi para pembuat perusahaan rintisan alias start-up untuk mendapat modal, tumbuh, dan berkembang. Sandbox dalam cerita itu benar-benar berperan seperti kotak pasir tempat anak-anak bermain. Jika ada anak yang terjatuh di kotak pasir saat bermain, maka anak tersebut tak akan mengalami luka yang parah. Seorang anak akan lebih berani bergerak jika dia yakin tak akan terluka parah jika terjatuh.

Mari kita bayangkan jika ada Sandbox di dunia nyata, khususnya di Indonesia. Apakah mungkin ada Sandbox seperti di dalam cerita drama Korea Start-Up di dunia nyata? Jawabannya mungkin.


Dalam drama Korea Start-Up, Sandbox dikelola oleh sebuah perusahaan yang menyediakan tempat bagi para pemula untuk mendapat modal dan mengembangkan usaha mereka. Para pemilik start-up berlomba masuk ke Sandbox agar mendapat fasilitas demi bisa berkembang. Mereka harus melewati seleksi ide hingga pengembangan model usaha yang menarik investor.

Sandbox juga menyediakan kantor, peralatan, data, mentor hingga ruang bagi pemilik start-up bertemu dengan investor. Di dunia nyata, tempat seperti Sandbox itu bisa diwujudkan di kampus-kampus.





Ya, kampus harus bisa menjadi seperti Sandbox di dalam drama Korea Start-Up. Kampus di Indonesia harus terbuka menjadi semacam laboratorium uji coba bagi orang-orang kreatif mengembangkan idenya membuat perusahaan rintisan. Kampus, dengan berbagai fasilitasnya harus terbuka sebagai salah satu implementasi dari pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Contoh

Mari kita mengambil contoh kampus yang mau dijadikan Sandbox adalah Universitas Indonesia (UI). Jika menjadi Sandbox, UI harus menyiapkan ruang, program, data, tenaga pembimbing, jaringan hingga modal agar bisa menjadi ekosistem pengembangan start-up yang baik. Untuk menyiapkan ruang, rasa-rasanya UI tak akan kesulitan. Masih ada ruang terbuka di kampus UI yang bisa dibangun gedung.

Berikutnya, UI harus menyiapkan program seperti yang ada di Sandbox. UI harus membuat semacam sayembara yang bisa diikuti siapapun dengan ide kreatif berupa perusahaan rintisan alias start-up. Para pemilik start-up harus mengirimkan proposal serta data diri untuk dikaji apakah layak mengikuti seleksi lanjutan. Setelah itu, UI harus membuat proses seleksi dengan melihat bakat dan kemampuan orang-orang tersebut mengembangkan sebuah perusahaan dengan tenaga terbatas.

UI juga wajib menyediakan data yang dibutuhkan bagi para calon pengusaha baru untuk mengembangkan ide mereka. Untuk hal ini, UI bisa bekerja sama dengan berbagai instansi pemerintah agar data penting bisa diperoleh dengan mudah oleh para pengembang start-up. Bank data menjadi hal urgen di sini.

Selain itu, UI juga harus menyiapkan tenaga pembimbing bagi para pemula. Rasa-rasanya hal ini tak terlalu sulit karena ada banyak akademisi hebat di UI. UI juga rasanya tak akan kesulitan untuk menyiapkan jaringan dan modal bagi para pengembang untuk bisa mewujudkan ide bisnis mereka.

Dal Mi dalam serial Start-Up di Netflix.


Yang penting, UI harus memberi batasan waktu bagi para peserta program pengembangan start-up untuk berhasil. Misalnya, setelah dinyatakan lolos dan diberi dana awal, maka para pengembang harus bisa merampungkan ide dan mewujudkannya dalam bentuk produk yang bisa dipakai dalam waktu 3 bulan. Mereka juga harus mendapat investasi tambahan untuk bertahan selama 3 bulan sembari mereka menikmati fasilitas gratis yang diberikan UI selama 3 bulan itu.

Jika gagal dan bisnis mereka dianggap tak bisa berkembang lebih lanjut, maka start-up itu harus tutup dan didepak dari fasilitas UI. Oleh sebab itu, tahap seleksi harus sangat ketat karena program pengembangan start-up sangat identik dengan bakar uang. Mendukung ekosistem start-up jangan pula sampai merugikan.

Harus ada hitung-hitungan yang jelas sejak awal seleksi, apakah ide yang disampaikan oleh pengembang bisa bertahan dan mendapat keuntungan atau tidak, dari mana uang dihasilkan, siapa pengguna produk start-up itu dan lainnya.

India Sudah Memulai

Ada hal yang harus diluruskan soal pengertian start-up. Selama ini, banyak orang yang berpikir start-up cuma sekadar aplikasi di ponsel seperti Gojek, Grab, Tokopedia, dan sejenisnya. Start-up lebih dari itu. Semua ide usaha baru yang belum pernah ada atau merupakan pengembangan dari yang telah ada merupakan start-up.

Di Musi Banyuasin misalnya, ada warga yang mengubah pelepah pinang menjadi piring dan kotak nasi untuk menggantikan produk plastik. Hal ini juga merupakan usaha rintisan alias start-up yang bisa masuk ke Sandbox. Produk seperti itu harus didukung agar berkembang lebih pesat dan mampu memproduksi lebih banyak. Pasarnya juga jelas karena banyak tempat yang mulai mengurangi penggunaan plastik.

Saya pernah membaca soal Indian Institute of Technology (IIT) Delhi menjadi salah satu kampus 'penghasil' unicorn atau start-up yang telah memiliki valuasi sebesar 1 miliar dolar AS. Sebelas dari 21 unicorn di India merupakan karya alumni IIT. Kampus ini memiliki tempat semacam Sandbox ala drama Korea Start-Up yang diberi nama Technology Business Incubator Unit.

Gedung ini memiliki berbagai ruangan untuk mahasiswa hingga orang dari luar kampus yang mau mengembangkan start-up mereka. Para pengembang yang ingin difasilitasi oleh IIT harus mengajukan proposal yang bakal diseleksi dan dibimbing oleh para profesor di kampus.

Dalam artikel yang saya baca, IIT tak menerima start-up berbentuk pengembangan aplikasi di ponsel. Mereka fokus pada pengembangan produk secara fisik. Misalnya, ada perusahaan rintisan yang mengolah sisa penggilingan menjadi kertas tahan air. Mirip seperti di Musi Banyuasin, produk yang mereka hasilnya dari sisa gilingan padi itu dibuat menjadi wadah telur hingga piring.

Ada juga start-up yang memodifikasi alat bantu jalan untuk para penyandang disabilitas. Alat tersebut diciptakan agar para penyandang disabilitas bisa beraktivitas di medan seperti pasir dan salju. Mereka mengembangkan alat tersebut berangkat dari keluhan para penyandang disabilitas yang kesulitan menggunakan tongkat saat berjalan di pantai ataupun salju karena tongkatnya tenggelam. Nah, alat yang mereka kembangkan ini bisa membantu penyandang disabilitas beraktivitas di tempat berpasir ataupun salju.

Start-up di lokasi itu juga mengembangkan produk seperti sabun dan sampo tanpa bilas. Produk itu dikembangkan untuk membantu warga di lokasi yang sulit air. Produk sampo dan sabun tanpa bilas ini juga menargetkan militer yang dalam tugasnya sering berada di lapangan tanpa sempat mencari sumber air untuk mandi.

Di inkubator bisnis IIT itu, para pengembang diberi batas waktu tertentu untuk menggunakan fasilitas dan menghasilkan produk. Setelah itu, mereka harus bisa memasarkan sendiri produknya atau mencari investor yang mau membiayai mereka. Hal yang dilakukan IIT ini sudah mirip seperti Sandbox di drama Korea Start-Up.

Pertanyaan besarnya, kapan Indonesia punya Sandbox sendiri?


Penulis adalah alumni Universitas Sumatera Utara, pecinta drama Korea

Sumber : detikcom.

Tidak ada komentar:

Post Bottom Ad