Sekjen PISPI : Swasembada Pangan Bukan Hal Mustahil - Mediajakarta.com | Situs Berita Jakarta Terkini

Post Top Ad

Sekjen PISPI : Swasembada Pangan Bukan Hal Mustahil

Sekjen PISPI : Swasembada Pangan Bukan Hal Mustahil

Share This
JAKARTA, MEDIAJAKARTA.COM- Sekretaris Jenderal Badan Pengurus Pusat Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia ( SEKJEN BPP PISPI) Kamhar Lakumani memandang, terwujudnya swasembada sektor pangan agar Indonesia terbebas dari kran impor bukan sesuatu hal yang mustahil.


Hal tersebut disampaikan Kamhar menanggapi kegeraman Presiden Jokowi soal komoditas pangan yang hingga saat ini masih impor hingga jutaan ton seperti kedelai, jagung, gula, dan bawang putih yang saat ini masih impor sampai jutaan ton.


"Kalau pertanyaannya apakah bisa berswasembada, jawabannya pasti bisa. Tapi ini butuh pendalaman lebih lanjut," kata Kamhar kepada Mediajakarta.com di Jakarta (19/1/2021).


Terwujudnya swasembada, lanjut alumnus Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin ini, harus dapat dinilai dengan berbagai aspek sudut pandang. 


Menurut Kamhar, sektor pangan tak bisa hanya dilihat dari aspek ekonomi melainkan perlu memandang aspek politik, sosial, budaya dan sebagainya.


"Mesti juga dipandang dari aspek politik, sosial, budaya dan sebagainya, mengingat pangan adalah sektor ibu, sektor dasar yang pemenuhannya tak bisa ditawar-tawar, apalagi digantikan. Sehebat dan sesukses apa pun kita atau suatu sektor, tanpa pangan atau makan, it's nothing," tandas Kamhar.


Kamhar mengingatkan, untuk komoditas gula, Indonesia pernah menjadi negara penghasil terbesar di dunia saat masa kolonial.


Namun makin kesini, lanjut Kamhar, produktifitas semakin menurun, sementara kebutuhan akan gula semakin meningkat.


"Konsumsi gula untuk industri makanan dan minuman terus meningkat.Ironisnya tingginya sisi permintaan ini tak mampu diimbangi kesiapan dan penyesuaian di sisi penawaran, utamanya peremajaan dan peningkatan kapasitas dan daya dukung teknologi," tutur Kamhar.


Kamhar menerangkan, di masa kolonial rendemen gula masih di atas 10% sementara beberapa dasawarsa terakhir kurang dari 10%.


"Tentunya ini hanya satu hal. Untuk kembali mengulang sejarah, menikmati manisnya kejayaan sebagai negara penghasil gula terbesar di dunia, membutuhkan pendekatan dan penanganan yang komprehensif, terintegratif dan presisi, mengingat industri ini juga padat modal," ungkap Kamhar.


Tidak hanya gula, Kamhar memandang, untuk kedelai sangat membutuhkan rekayasa teknologi dan genetik dalam pengembanganya.

Hal ini, tegas Kamhar, diperlukan mengingat kedelai adalah tanaman yang berasal dari daerah sub-tropis, tentunya jika dibudidayakan di daerah tropis menjadi berbeda.


"Lebih tepatnya berkurang produksinya. Ini kendala sekaligus tantangan alamiahnya," tandasnya (Marwan)

Tidak ada komentar:

Post Bottom Ad