Imbas Kerumunan di Petamburan, Kepala Dinas LH dan Walikota Jakarta Pusat Dicopot dari Jabatanya - Mediajakarta.com | Situs Berita Jakarta Terkini

Post Top Ad

Imbas Kerumunan di Petamburan, Kepala Dinas LH dan Walikota Jakarta Pusat Dicopot dari Jabatanya

Imbas Kerumunan di Petamburan, Kepala Dinas LH dan Walikota Jakarta Pusat Dicopot dari Jabatanya

Share This

Wali Kota Jakarta Pusat, Bayu Meghantara yang baru aja dicopot dari jabatannya. Foto : Ist.

JAKARTA, MEDIAJAKARTA.COM- Kasus kerumunan di kawasan Petamburan Jakarta Pusat berdampak pencopotan Bayu Meghantara sebagai Wali Kota Administrasi Jakarta Pusat dan  Kepala Dinas Lingkungan Hidup(LH) Provinsi DKI Jakarta, Andono Warih.


Keduanya dianggap lalai dalam menjalankan arahan dan tugas. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil, maka keduanya dibebastugaskan sebagai pemangku jabatan masing-masing.


Penjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi DKI Jakarta, Sri Haryati mengungkapkan, dalam kegiatan kerumunan di Petamburan pada 14 November lalu, jajaran Kecamatan, Kelurahan dan Suku Dinas Lingkungan Hidup justru meminjamkan fasilitas milik Pemprov DKI Jakarta untuk kegiatan yang bersifat pengumpulan massa.


Berdasarkan hasil audit tersebut menilai keduanya telah lalai dan abai dengan tidak mematuhi arahan dan instruksi dari Gubernur.


“Kami memutuskan tidak sembarangan. Ini juga setelah melalui hasil audit dari Inspektorat dan sudah kami laporkan ke Pak Gubernur. Sesuai dengan PP No. 11 Tahun 2017, maka keduanya dibebastugaskan,” ujar Sri, Sabtu (28/11).


Sri menambahkan, keduanya sudah menerima surat pembebastugasan tersebut. 


Surat tersebut diberikan pada hari Rabu, 25 November lalu. Hasil audit dari Inspektorat sendiri keluar sehari sebelumnya yakni pada tanggal 24 November.


Pemeriksaan oleh Inspektorat berdasar dari instruksi Gubernur pada 23 November lalu. 


Saat itu, Gubernur Anies menginstruksikan Inspektorat untuk memeriksa Bayu dan Andono terkait adanya dugaan potensi pelanggaran terhadap arahan Gubernur pada jajaran wilayah.


Arahan Gubernur disampaikan secara tertulis kepada jajaran. Arahan diberikan untuk mengantisipasi semua kegiatan yang berpotensi kerumunan. 


Arahan itu di antaranya terkait larangan meminjamkan fasilitas Pemprov DKI Jakarta atau memfasilitasi kegiatan warga yang sifatnya kerumunan atau pengumpulan massa.


"Keduanya sudah menyatakan memahami arahan Gubernur, namun mereka ternyata tidak melaksanakan pengendalian jajarannya dan tidak melakukan pengecekan di lapangan dengan baik,"pungkasnya. (Mutma)

Tidak ada komentar:

Post Bottom Ad