Belum Ada Judul, Mungkin Merdeka - Mediajakarta.com | Situs Berita Jakarta Terkini

Post Top Ad

Oleh : Andi Sukmono Kumba*

Undagan itu berserak di banyak media: dibutuhkan 1.620 relawan untuk ujicoba calon vaksin Covid-19 dari China, Sinovac. Sejak diumumkan penghujung Juli hingga saat ini, terkonfirmasi jumlah relawan yang bersedia, belum cukup.

Dalam pencarian berkriteria itu—maka lebih tepat disebut kelinci percobaan—CNBC Indonesia melansir sikap Gubernur Jawa Barat, “Konkret! Ridwan Kamil Siap Jadi Relawan Vaksin Sinovac.” Hari yang bersamaan, Jumat (7/8/2020), di Kumparan, Menteri BUMN Erick Thohir, menyatakan, "Kita sebagai pemimpin, belakanglah. Biar rakyat yang duluan."

Bagaimana memahami sikap diametral pemegang mandat tim Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19? Tulisan belum ada judul ini, tidak dimaksudkan mendedah derajat keteladanan dan tanggung jawab pemimpin. 

Mari fokus! Kita butuh 1.620 kelinci percobaan. Apakah tepat menyebutnya sukarelawan atau kelinci percobaan? Bukankah mereka terdepan menanggung resiko, demi keselamatan 263 juta rakyat Indonesia dari wabah korona?

Kita mesti menaruh hormat pada orang-orang berhati mulia itu, minimal, dengan menyebutnya duta kemanusiaan. Belum ada yang tahu, seberapa ampuh Sinovas sebagai vaksin Covid-19. Karenanya, butuh mereka, untuk ujicoba.

Korona telah membuat kita cemas, takut, dan bingung selama lima bulan terakhir, karena berlarut-larut dengan kesulitan yang tidak sedikit. Cukupkah kesabaran melewati krisis untuk beberapa bulan atau tahun ke depan, hingga Sinovac, atau calon vaksin lainnya, berhasil dan aman untuk digunakan?

Telah berceceran kisah pilu dan tragis di negeri ini akibat dampak korona. Ada Ason Sopian, kepala rumah tangga di Batam, yang  menjual ponsel rusak miliknya dengan harga 10 ribu, untuk membeli beras agar istri dan lima anaknya tetap bisa makan. Di Medan, Atek menjadi bulan-bulanan massa saat tepergok mencuri beras ukuran 5 kilogram, karena kelaparan. Belum kisah Yuli Nur Amelia di Serang, yang berakhir di liang lahat setelah 2 hari tak makan.

Yang nekat dan memilih bunuh diri juga tidak sedikit. Seorang pengemudi taksi online ditemukan tewas di sebuah kebun kosong di Bekasi. Diduga mengakhiri hidup karena tak sanggup membayar cicilan kendaraan. Menurut pengakuan istrinya, korban menganggur sejak korona merebak.

Seorang pria lainnya, di Jakarta Barat, ditemukan tak lagi bernyawa di kamar kosnya. Juga diduga frustasi setelah menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK). Terbaru, pasien berusia 39 tahun positif Covid-19, mengakhiri hidup di Medan, dengan melompat dari lantai 12 rumah sakit tempatnya menjalani isolasi.

Peristiwa pilu dan tragis itu, sedikt dari banyak yang dihampar media. Sampai kapan atau siapa lagi? Melihat wabah korona merebak, dengan jumlah terpapar yang terus  meningkat dan meluas, beserta ragam dampak yang menggelinding seperti bola salju, maka ujicoba vaksin mendesak, sangat.

Tapi jumlah duta kemanusiaan belum cukup? Bagaimana, jika kita ketuk nurani Presiden Jokowi untuk turut menjadi duta? Jumlahnya akan cepat tercukupi, mungkin lebih. Karena setelah itu, menteri, gubernur, walikota, bupati dan anggota legislatif seluruh Indonesia, berbondong-bondong mendaftar, dan rakyat yang telah bersedia, sebagaimana mestinya, mundur penuh kerendahatian, memberi kesempatan terhormat kepada pemimpin dan elit bangsa ini.

Bila demikian, 1.620 pahlawan kemanusiaan itu, adalah pemimpin dan elit bangsa sebagaimana aba-aba Ridwal Kamil, perayaan 75 tahun merdeka, akan penuh cucuran air mata saat kita hormat pada sang saka merah putih 17 Agustus, beberapa hari ke depan. 

Selain sebagai kado terbaik 75 tahun merdeka, apa yang dicemaskan Chaeril Anwar saat bertanya pada pahlawan yang gugur antara Kerawang dan Bekasi, “Untuk apa semua kematian itu? Untuk sebuah cita-cita atau, tidak untuk apa-apa?” Sekali ini, kita jawab tegas.

Untuk sebuah cita-cita bung! Lihatlah, 1.620 orang itu, seluruhnya adalah pemimpin dan elit bangsa ini. Mereka adalah pemimpin yang berlimpah tanggung jawab dengan perikemanusiaan yang luhur. Dan, dengan itu, tak perlu lagi refleksi usang ini: dari dan untuk apa kemerdekaan? Sebenarnya MERDEKA!

*Penulis adalah penikmat kopi, alumnus HMI dan pegiat di komunitas literasi OPINIA.

Tidak ada komentar:

Post Bottom Ad