Oxam Ingatkan Perusahaan Farmasi Untuk Sediakan Vaksin Bagi Orang Miskin - Mediajakarta.com | Situs Berita Jakarta Terkini

Post Top Ad

Oxam Ingatkan Perusahaan Farmasi Untuk Sediakan Vaksin Bagi Orang Miskin

Oxam Ingatkan Perusahaan Farmasi Untuk Sediakan Vaksin Bagi Orang Miskin

Share This

Jose Maria Vera, Direktur Eksekutif Oxfam International 

JAKARTA, MEDIAJAKARTA.COM - Jose Maria Vera, Direktur Eksekutif Oxfam International memperingatkan pemimpin dunia dan perusahaan farmasi besar untuk mempertimbangkan kondisi negara-negara miskin dan  negara berkembang. 


Pasalnya, vaksin akan semakin sulit diakses oleh kelompok rentan, terutama mereka yang tinggal di negara miskin dan berkembang ketika perusahaan farmasi besar hanya mengedepankan kepentingan negara dan sektor privatnya semata.

Jose Maria Vera menyebut pemberian vaksin Corona pada kelompok masyarakat yang paling miskin (baca: jumlahnya 3,7 miliar orang di dunia), sesungguhnya menelan biaya yang lebih kecil dibandingkan dengan pendapatan 10 perusahaan farmasi terbesar dalam empat bulan.

“Apa pun yang menghambat vaksin tersedia secara gratis bagi mereka yang membutuhkan adalah sebuah tindakan keji”, ujar Jose Maria Vera, Direktur Eksekutif Oxfam International dalam rilis yang diterima Media Jakarta.

Sebelumnya, Gates Foundation memperkirakan bahwa biaya pengadaan dan pengiriman vaksin yang aman dan efektif untuk orang-orang termiskin di dunia adalah Rp 372,2 biliun.

"Tahun lalu, sepuluh besar perusahaan farmasi menghasilkan untung Rp 1,4 biliar - rata-rata Rp 447,9 biliun setiap empat bulan", kata Jose Maria Vera.

Oxfam menilai, setelah vaksin atau perawatan dikembangkan, terdapat risiko tinggi bahwa pemerintah kaya akan memaksakan kehendak mereka dan mengalahkan negara-negara miskin dan berkembang, seperti yang terjadi dalam perebutan pasokan medis (alat pelindung diri dan oksigen)

Banyak negara miskin tidak dapat mengakses vaksin esensial dan obat-obatan karena aturan paten yang memberi hak monopoli perusahaan farmasi dan kekuatan untuk menetapkan harga jauh di atas kemampuan mereka.

Sementara itu, pneumonia adalah pembunuh terbesar anak-anak di bawah usia 5 tahun, dengan dua ribu anak meninggal setiap harinya.

"Setelah lebih dari satu dekade, jutaan anak belum memiliki akses ke vaksin pneumonia yang dipatenkan dan diproduksi oleh perusahaan farmasi asal Amerika 'Pfizer' dan 'GlaxoSmithKline' karena biayanya yang mahal", ujar Jose Maria Vera.

Kedua perusahaan itu baru mengurangi harga pada 2016 setelah kampanye oleh Médecins San Frontieres selama bertahun-tahun yang akhirnya diberikan kepada negara-negara yang paling miskin. Walau begitu, masih ada jutaan anak lainnya yang belum memiliki akses terhadap vaksin tersebut.

Mencermati kondisi itu, Oxfam menyerukan empat poin rencana global demi pemerataan akses terhadap vaksin. Pertama, Oxfam meminta keterbukaan akses terhadap semua pengetahuan, data, dan kekayaan intelektual terkait Covid-19, serta berkomitmen terhadap pendanaan publik yang bisa digunakan untuk perawatan, atau vaksin yang dibuat bebas paten dan bisa diakses oleh semua orang.

Kedua, Oxfam meminta komitmen untuk menambah kapasitas produksi dan distribusi vaksin global dengan pendanaan dari pemerintah negara-negara kaya. "Ini berarti membangun pabrik di negara-negara yang mau berbagi dan berinvestasi dalam jutaan pekerja kesehatan tambahan yang diperlukan untuk memberikan pencegahan dan perawatan kini dan nanti", kata Jose Maria Vera.

Ketiga, Oxam meminta vaksin, perawatan, dan tes harus diproduksi dan dipasok dengan biaya serendah mungkin oleh pemerintah dan lembaga penelitian. Hal itu penting untuk memastikan pasokan didasarkan pada kebutuhan, bukan pada kemampuan membayar.

"Idealnya tidak lebih dari $ 2 atau Rp 30 ribu per dosis untuk vaksin, serta diberikan gratis pada semua orang yang membutuhkan", ungkap Jose Maria.

Keempat, Oxam menginginkan agar perusahaan farmasi tetap memproduksi obat-obatan yang diperlukan masyarakat meskipun tidak menguntungkan perusahaan. Karena itu perbaikan sistem saat melakukan penelitian dan pengembangan obat-obatan baru perlu dilakukan secara cermat.

"Selama ini ada kecenderungan obat-obatan yang tidak terjangkau oleh negara dan orang-orang termiskin selalu diproduksi demi keuntungan perusahaan", ujar Jose Maria Vera.

Lebih lanjut, Vera menyimpulkan, “Memberikan vaksin yang terjangkau untuk semua orang membutuhkan kerja sama global. Pemerintah harus mengutamakan kesehatan orang di atas paten dan keuntungan perusahaan farmasi, termasuk memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal.” (jack)

Tidak ada komentar:

Post Bottom Ad