Siti Fadilah Supari: Indonesia Bangkit Sekarang, Jangan Tunggu Vaksin! - Mediajakarta.com | Situs Berita Jakarta Terkini

Post Top Ad

Siti Fadilah Supari: Indonesia Bangkit Sekarang, Jangan Tunggu Vaksin!

Siti Fadilah Supari: Indonesia Bangkit Sekarang, Jangan Tunggu Vaksin!

Share This
Siti Fadilah Supari, Mantan Menteri Kesehatan.
 
JAKARTA, MEDIAJAKARTA.COM- Siti Fadilah Supari, Mantan Menteri Kesehatan era Susilo Bambang Yudhoyono kembali bersuara dari balik jeruji terkait dengan penanganan Covid-19 di Indonesia.

Siti Fadilah dapat memahami mengapa Presiden Jokowi mulai melonggarkan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Menurut Siti, hal itu diperlukan agar bangsa ini secara bertahap pulih kembali.

"Mengembalikan kegiatan sosial dan membangun perekonomian Indonesia", ujar Siti dalam surat terbuka yang ditulisnya pada 16 Mei 2020 dari Rutan Pondok Bambu.

Siti Fadilah juga meminta semua orang untuk bangkit dari ketakutan dan kekhawatiran. "Kita harus bangun dari keterpurukan ini untuk memulai kehidupan lagi", pintanya.

Sementara terkait kemungkinan hadirnya vaksin unggulan Bill Gates dalam 18 bulan kedepan, Siti Fadilah meminta pemerintah perlu bertindak hati-hati. Pasalnya, strain virus yang beredar di Indonesia (berdasarkan Lembaga  Eijkman) ternyata  berbeda dengan virus di banyak negara, termasuk di negara yang getol mengujicoba  vaksin sebelum diproduksi besar-besaran.

"Kita perlu hati-hati disini, berarti vaksin yang mereka bikin berasal dari virus yang karakternya berbeda dengan vìrus yang ada di indonesia", ujar Siti Fadilah.

Ketika vaksin yang dijual nantinya ternyata tidak kompatibel dengan genetik masyarakat Indonesia, menurut Siti, vaksin tesebut tidak akan efektif dan cenderung berbahaya.

Karena itu, Siti Fadilah meminta pemerintah perlu belajar dari pengalaman China, yang berhasil bangkit pasca-pandemi corona. "Wuhan kembali memulai kehidupan baru setelah Corona, dengan tanpa vaksin, tapi menggunakan obat tradisional", ujarnya.

China dianggap Siti mampu menunjukkan ketangguhannya dalam menghadapi pandemi corona sejak awal , termasuk ketika harus melakukan Lockdown

"Kemudian corona berhenti, setelah itu ekonomi bangkit kembali. Tidak perlu heran  karena  China adalah negara dengan azas otoritarian", ungkap Siti.

Itulah sebabnya, dimasa darurat seperti saat ini, Siti mengingatkan tentang pentingnya desicion making (pengambilan keputusan) yang efektif, termasuk membangun komunikasi satu arah (sistem komando) antara pusat dan daerah.

"Karena ini hampir tidak terjadi di negara-negara yang menganut azas demokrasi. Selalu ada pro-kontra, sehingga sebuah keputusan diambil memakan waktu lebih lama", papar Siti.

China  dengan jelas menunjukkan kepada dunia, bahwa mereka mampu mengatasi Covid-19 tanpa vaksin, dan menurut Siti Fadilah, mereka juga telah siap dengan serangan gelombang kedua  dengan genom virus yang berbeda.

Jika pemerintah akhirnya membeli antivirus besutan Bill Gates, ditengarai kita akan menuruti semua anjuran yang diberikan, termasuk peluang memperpanjang aturan PSBB dan terus tinggal di rumah saja.

Jika itu terjadi, Siti Fadilah memperkirakan kondisi ekonomi Indonesia akan semakin terpuruk. "Ekonomi kita  akan nyungsep lebih dalam lagi  sampai  tahun 2021 berakhir", katanya.

Sebelumnya, Bill Gates menyebutkan jika pun wabah corona berhenti, maka kondisi masyarakat dunia tidak sama seperti sebelumnya. Akan terjadi perubahan peradaban dan pola hidup.  

"Bill Gates mungkin mengacu pada peristiwa Spanish Flu pada 1918", kata Siti Fadilah

Sementara itu, Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular AS, Dr. Anthony Fauci, mengingatkan setiap negara agar tidak buru-buru membatalkan lockdown, karena berdampak buruk terhadap penularan Covid-19. Dan disaat bersamaan, WHO menyatakan  tidak akan pernah ada vaksin sebelum 2021 berakhir.

Masih terkait Corona, seorang professor dari global health di Imperial College London, yang juga special envoy WHO untuk covid 19, Dr David Nabarro menegaskan, bahwa kemungkinan besar tidak akan pernah ada vaksin yang efektif utk corona.

"Karena itu, sebagaimana penyakit-penyakit yang tidak ditemukan vaksinnya, seperti HIV AIDS, Dengue, maka kita harus bisa hidup berdamai dengan virus corona dan tetap waspada", terang Siti Fadilah.

Bagi Siti, waspada diperlukan, agar kita bisa bangkit untuk membangun kembali peradaban, termasuk dengan menggerakkan kehidupan sosial dan roda ekonomi masyarakat.

Pelonggaran PSBB
Ketika pemerintah melonggarkan aturan PSBB, Siti Fadilah meminta hal itu dilakukan secara matang. Termasuk dengan tidak mengeluarkan aturan yang tumpang tindih atau bertentangan dengan aturan yang telah ada.

"Misalnya, boleh naik kapal terbang, tapi saratnya banyak dan akhirnya yang bisa terbang sedikit. Dari segi ekonomi  tidak menguntungkan", ujar Siti.

Itu sebabnya, Siti meminta jika ingin melonggarkan PSBB, maka aturannya harus jelas, sehingga bisa dipahami masyarakat dan tidak menimbulkan kerancuan. Juga sebaiknya aturan dilakukan secara bertahap.

"Misalnya, KRL tidak boleh jalan tadinya, tapi sekarang boleh dengan isinya jangan 100%, mungkin mulai dari 50 %, terus 70%  dan seterusnya", ujar Siti Fadilah.

Siti Fadilah juga menilai pergerakan warga adalah sumbu pergerakan ekonomi. Karena itu ekonomi masyarakat harus dibangkitkan. "Kalau ekonomi rakyat bangkit, pemerintah akan lebih ringan tugasnya dalam memenuhi social safety net-nya", ujarnya.

Saat pergerakan  warga  dibatasi, menurut Siti, hal itu mengakibatkan dampak buruk terhadap pertumbuhan ekonomi. Namun di sisi lain, pergerakan warga secara massal berpotensi menimbulkan lonjakan penyebaran  Covid-19.

Menurut Siti, solusinya adalah menghidupkan kembali perilaku hidup bersih sehat. Ketika masyarakat mengetahui bahwa penularan corona hanya melalui droplet, maka harus selalu menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak aman.

"Kita harus berjalan diantara pilar yang seimbang, pergerakan warga dengan cara yg sehat, harus selalu pakai masker, jaga jarak 1 meter dengan lainnya,  dan tidak bersentuhan  serta rajin cuci tangan", ungkap Siti Fadilah.

Perbanyak Swab Test
Siti Fadilah juga meminta pemerintah menyediakan sarana swab test molecular base,  buatan Indonesia, yang didasarkan pada strain virus asal Indonesia. Hal itu tentu lebih valid, dan BPPT ternyata siap membantu, sehingga masyarakat mudah untuk mengaksesnya.

"Siapkan primer untuk PCR di laboratorium, dengan basis virus strain Indonesia", pinta Siti.

Juga perlu diperhitungkan kesiapan fasilitas layanan kesehatan yang diberikan oleh setiap rumah sakit, termasuk sosialisasi hasil penelitian yang dilakukan lembaga Eijkman.

"Standar prosedur resmi untuk penanganan corona di rumah sakit harus ada. Termasuk kesiapan ventilator  dan dokter yang berpengalaman, sehingga rakyat bisa tenang karena ada kepastian untuk sembuh", kata Siti Fadilah.

Selama ini, laporan Kemenkes terkait perkembangan Covid-19 menunjukkan perubahan yang patut diapresiasi, setidaknya dalam jumlah pasien yang berhasil sembuh. Hal itu, menurut Siti Fadilah sebagai langkah baik untuk menghilangkan ketakutan dan kecemasan masyarakat terhadap virus corona.

"Yang jelas di dalam laporan harian itu, yang berhasil disembuhkan semakin banyak dan yang meninggal  lebih sedikit", kata Siti.

Ketika WHO menyebutkan penularan Covid-19 sifatnya  eksponensial, bagi Siti, hal itu tidak bisa digeneralisir, karena di Indonesia saat pertama kali ditemukan, hanya 2 orang dinyatakan positif dari 8o orang ODP.

"Artinya, hitungan kasar penularannya hanya 2.5%", ujar Siti.

Kini, ketika Indonesia memiliki 269 ribu ODP (Orang Dalam pemantauan) sebagaimana laporan harian Kemenkes, maka jumlah itu bisa memberi arti tersendiri tentang potensi penularan Covid-19.

"Jadi tidak perlu takut,  tapi tetap 'eling lan waspodo'. Eling itu inget masih dalam masa pandemi, dan waspodo itu harus tetap mengikuti protokol PSBB yang ditetapkan pemerintah", kata Siti.

Siti juga mengistilahkan kondisi pandemi saat ini sebagai perang besar, setelah  sebelumnya, Xi Jinping  dan Bill Gates juga menyebut perang terhadap corona. Karena itu, Siti mengingatkan agar masyarakat selalu memiliki mindset perang terhadap virus, terhadap ketakutan, terhadap keterpurukan, juga terhadap kebingungan.

"Inget, negara kita justru merdeka setelah perang dunia kedua. Maka dalam peperangan ini  kita harus berani mengambil resiko untuk menang" ungkap Siti.

Karena itu Siti mengajak: "Ayo kita bangkit sekarang juga. Bangkit dengan cara yang sehat dan aman untuk mewujudkan pembangunan ekonomi rakyat yang mandiri". (Jekson)

Tidak ada komentar:

Post Bottom Ad