Cek Fakta: 2 Dokter AS Usulkan Beraktivitas Di Luar Rumah Saat Pandemi? - Mediajakarta.com | Situs Berita Jakarta Terkini

Post Top Ad

Cek Fakta: 2 Dokter AS Usulkan Beraktivitas Di Luar Rumah Saat Pandemi?

Cek Fakta: 2 Dokter AS Usulkan Beraktivitas Di Luar Rumah Saat Pandemi?

Share This
JAKARTA, MEDIAJAKARTA.COM - Beberapa waktu lalu, muncul pernyataan dua dokter yang menyebut karantina mandiri bagi orang sehat untuk memutus penyebaran Covid-19 tidak diperlukan. Pasalnya, mereka menganggap virus tersebut akan mati dengan sendirinya.

Pernyataan kedua dokter bernama Daniel W. Erickson dan Artin Massihi yang muncul di video "Plandemic", sontak menggegerkan media sosial. Bahkan, Youtube berkali-kali menghapus video mereka karena dianggap melanggar persyaratan layanan dan bertentangan dengan rekomendasi WHO.

Erickson dan Massihi tiba-tiba tenar di kalangan konservatif Amerika Serikat, usai konferensi pers pada 22 April lalu. Dalam video itu, Erickson dan Massihi menganggap wabah virus SARS-CoV-2 bukanlah suatu ancaman. Mereka lalu menyarankan agar orang-orang kembali keluar rumah.

Kedua dokter yang berdomisili di Bakersfield, California itu mengklaim bahwa virus SARS-CoV-2 bukanlah penyebab utama kematian saat pandemi ini. Mereka juga berpendapat,  virus corona lebih mirip dengan flu musiman biasa.

Di Indonesia, video Erickson dan Massihi, telah dibagikan oleh akun Facebook Bless4Hell666. Video itu telah dibagikan sebanyak 961 kali dan mendapat komentar 166 kali.

Akun tersebut juga menuliskan keterangan sebagai berikut:
"Penting!
Dokter ahli Amerika membongkar ternyata kita dibohongi tentang Covid-19.
Semua hanyalah kerja sama Elite Global Cina dan Who? siapa...
Viralkan️"

Daniel W. Erickson dan Artin Massihi diketahui membuka Accelerated Urgent Care di Bakersfield. Mereka adalah tenaga medis yang fokus menangani virus dan infeksi saluran pernapasan.

Begitu menyadari virus corona meluas di China pada Januari lalu, mereka telah mewanti-wanti jika penyebarannya mencapai California dengan membeli 5.000 alat tes Covid-19 sejak April.

Dari tes itu, mereka menyimpulkan bahwa Covid -19 lebih mirip dengan flu musiman. Pasalnya, data flu musiman pada 2017 dan 2018 meyebutkan ada 50 - 60 juta orang terkena flu, dimana tingkat kematiannya hampir sama dengan Covid -19, yakni 37 - 60 ribu kasus, tanpa faktor pandemi, kebijakan berdiam di rumah, atau penutupan bisnis.

Atas dasar itu, mereka mengklaim bahwa social distancing dan isolasi mandiri berpeluang menurunkan imunitas seseorang. Untuk mencegahnya, orang-orang dianjurkan beraktivitas di luar rumah. Masih di video yang sama (Plandemic), mereka juga menyimpulkan penggunaan masker bagi orang sehat justru berbahaya.

Penelusuran
Berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Media Jakarta ditemukan kritik keras dari dokter-dokter yang tergabung di The American College of Emergency Physicians (ACEP) dan the American Academy of Emergency Medicine (AAEM).

Mereka menyebut omongan Erickson dan Massihi sebagai "ceroboh dan tak terbukti". Klaim ini, menurut ACEP dan AAEM, tidak sesuai dengan penelitian dan pengetahuan terkini tentang Covid-19 dan tidak dapat digunakan sebagai basis pengambilan kebijakan publik.

ACEP dan AAEM menganggap Erickson dan Massihi telah merilis data yang bias dan tidak melalui peer-reviewed, demi kepentingan pribadi tanpa mempedulikan kesehatan masyarakat.

Data Erickson dan Massihi dipermasalahkan ACEP dan AAEM, karena dianggap tidak mewakili informasi yang akurat, utamanya ketika menyebut ada 12 persen positif Covid-19 di California.

Bagi ACEP dan AAEM, besaran 12 persen itu sulit jika disebut mewakili keseluruhan negara bagian California, karena negara bagian itu memiliki wilayah yang luas dan beragam.

Tak hanya itu, ACEP dan AAEM juga mempermasalahkan metodologi kedua dokter tersebut dalam menghitung angka kematian. Erickson dan Massihi  diketahui membandingkan angka kematian Covid-19 dalam 2 bulan dan dengan angka kematian flu selama 6 bulan.

ACEP dan AAEM juga menolak jika Covid-19 dianggap tidak berbahaya, mengingat pandemi ini masih berlangsung di fase awal. Covid-19 dianggap lebih berbahaya dari flu musiman, karena beberapa hal, seperti; virus corona baru telah menjangkiti lebih banyak orang dibanding flu musiman dalam waktu singkat.

Kedua, flu musiman memiliki masa inkubasi antara 1 hingga 4 hari, sementara SARS-CoV-2 memiliki masa inkubasi hingga 14 hari. Dengan demikian, seseorang yang terinfeksi punya kesempatan besar untuk menjangkiti lebih banyak orang sebelum jatuh sakit.

Ketiga, rata-rata orang yang dirawat akibat Covid-19 jauh lebih besar dibanding flu biasa, yakni 19 persen berbanding 2 persen. Poin ini yang menjadi alasan mengapa social distancing diperlukan.

Sementara terkait klaim yang menyebut belum ada kematian murni akibat virus SARS-CoV-2, memang sejumlah pasien Covid-19 yang meninggal bukan karena virus tersebut, namun karena komplikasi. Beberapa penyakit yang menyertainya, seperti; diabetes, stroke, ginjal hingga jantung.

Hal itu diperkuat laporan Ketua Gugus Tugas Kuratif Satgas Penanganan COVID Jatim dr. Joni Wahyuhadi, yang menyebut, dari 48 pasien yang meninggal dunia di Jawa Timur, hanya 2 pasien yang murni meninggal karena infeksi SARS-CoV-2.

Kesimpulan
Pendapat yang dikeluarkan dr. Daniel Erickson dan dr. Artin Messihi dari California dibantah para ahli kesehatan dari the American College of Emergency Physicians (ACEP) dan the American Academy of Emergency Medicine (AAEM). Atas keterangan itu, Tim Cek Fakta Media Jakarta, menyebut pernyataan kedua dokter tersebut keliru dan dikeluarkan secara gegabah, sehingga menyesatkan (misleading) bagi banyak orang.

Selain itu, Youtube juga telah menghapus video yang menayangkan pendapat kedua doker tersebut, sebab dianggap melanggar persyaratan layanan dan bertentangan dengan rekomendasi WHO. (Red)


Tentang Cek Fakta MediaJakarta.com
Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim Cek Fakta Media Jakarta di email redaksirmediajakarta@gmail.com.

Tidak ada komentar:

Post Bottom Ad