Jakarta

[Jakarta][bleft]

Bisnis

[Bisnis][bleft]

Tekno

[Tekno][bleft]

Lingkungan

[Lingkungan][bleft]

Sport

[Sport][bleft]

Politik

[Politik][bleft]

Internasional

[Internasional][bleft]

Kolom

[Kolom][bleft]

Kru Kapal Pesiar Diamond Princess Asal Indonesia Minta Dievakuasi Segera, Karena Tak Mau Mati Perlahan


JAKARTA, MEDIAJAKARTA.COM- Kru kapal asal Indonesia di Diamond Princess telah menyampaikan pesan agar segera dievakuasi dari kapal pesiar, yang lebih dari 600 penumpangnya terjangkit virus corona.

Permintaan mereka langsung ditujukan kepada Presiden Joko Widodo, lewat sebuah video berdurasi satu menit delapan detik yang dishare melalui akun Facebook ABC News.

Dalam video tersebut, sejumlah orang yang mewakili 74 kru Indonesia di atas kapal pesiar meminta pemerintah untuk memulangkan mereka dari kapal Diamond Princess.

Mereka mengkhawatirkan kesehatan dan keselamatan mereka yang berpotensi tertular virus corona.
"Kepada Pak Presiden Jokowi yang terhormat, kami yang berada di Diamond Princess di Yokohama sudah sangat takut, ibaratnya dibunuh pelan-pelan."


Mereka juga meminta pemerintah tidak menjemput mereka dengan kapal laut yang memakan waktu dua minggu perjalanan sampai ke Jepang.


Kamis pekan lalu (20/02, pemerintah memang tengah membahas opsi evakuasi lewat laut dengan menggunakan kapal medis milik Angkatan Laut, KRI Dr Soeharso, yang saat ini bersandar di dermaga Komando Armada Dua (Koarmada II) Surabaya, Jawa Timur.

Dengan total waktu 34 hari untuk proses evakuasi, opsi lewat jalur laut dipertanyakan oleh kru kapal Diamond Princess asal Indonesia.

Kru dari negara lain sudah peroleh kepastian evakuasi

Selain menitipkan video untuk Presiden Joko Widodo, kepada Hellena Souisa dari ABC Indonesia kru kapal mengatakan jika kru asal Indonesia merupakan satu-satunya yang belum mendapat kepastian evakuasi.

Keterangan ini mereka dapatkan dari kapten kapal sendiri, seperti yang dijelaskan seorang kru kapal asal Indonesia.

"Kru dari negara lain, seperti India dan Filipina sudah mendapat kepastian evakuasi dari pemerintahnya."


Sebelumnya, Sasa mengaku jika banyak kru kapal asal Indonesia merasa sudah merasa "hampir putus asa" untuk bisa dipulangkan lebih awal.

Permintaan evakuasi, puncak kekhawatiran kru

Permohonan evakuasi secepatnya melalui video merupakan puncak kekhawatiran kru kapal asal Indonesia, yang sudah mulai dirasakan sejak status kapal dinyatakan "dikarantina".

Kekhawatiran kru dari atas kapal pertama kali disampaikan Sasa kepada ABC Indonesia, Kamis dua pekan lalu (13/02).

"Kami para WNI ini harus bekerja di lingkungan orang-orang yang [berpotensi] positif terinfeksi Corona," katanya.



Keterangan ini disampaikan sehari setelah Kemenkes RI menyatakan seluruh kru telah melewati masa observasi dan "dinyatakan negatif".


Padahal pernyataan yang disampaikan Direktur Pemantauan dan Karantina Kesehatan Kemenkes RI, Vensya Sitohang saat itu disampaikan sebelum 14 hari genap masa inkubasi.

Saat itu kru kapal juga mengaku belum pernah dites dan mengaku masih bekerja lebih dari 10 jam sehari.

Kesehatan kru dites baru akhir pekan lalu

Mereka akhirnya baru dites dengan metode 'swab' hari Kamis (20/02) dan Jumat (21/02) pekan lalu, seperti yang diceritakan Sasa.

Tes dilakukan setelah ada 3 kru kapal asal Indonesia yang terkonfirmasi positif corona, dan setelah penumpang selesai dikarantina.

Dalam video yang dikirim Minggu kemarin, perwakilan kru mengaku seluruh kru sebanyak 74 orang sudah dites dan hasilnya negatif.

Sementara empat kru kapal Indonesia telah dinyatakan positif corona, kini sudah dirawat di rumah sakit di Jepang.

Untuk itulah mereka meminta agar kru asal Indonesia segera dievakuasi sebelum mereka terjangkit virus corona.

Badan Kesehatan Dunia, WHO, mengatakan lebih dari setengah kasus corona di luar China terjadi di kapal pesiar Diamond Princess.

Opsi Pemulangan

Terkait opsi evakuasi bagi kru kapal asal Indonesia di kapal Diamond Princess, Pemerintah Indonesia akan memberi keputusan Selasa hari ini (25/02).


Selain melalui jalur laut dengan menggunakan KRI Dr Soeharso, pemerintah juga sedang mempertimbangkan pilihan alternatif evakuasi lainnya, seperti menggunakan pesawat terbang.

Hingga saat ini belum diputuskan pilihan mana yang akan diambil pemerintah dan kru kapal asal Indonesia masih terus menanti kabarnya.

"Oleh sebab itu, rencananya Selasa akan dirapatkan untuk memutuskan apakah menggunakan jalur laut atau udara," jelas Menhub.

ABC juga menemukan pihak otoritas kesehatan di Jepang saat itu tidak melakukan tes kepada semua orang di kapal pesiar.

Fasilitas pemerintah Jepang hanya dapat melakukan tes 300 sampel setiap harinya, sehingga akan sulit dengan total 3.600 orang yang berada di atas kapal.

Dua penumpang, berusia 80 tahun, meninggal akibat virus corona, seperti yang dilaporkan media Jepang NHK. (ABC/MJ)

Tidak ada komentar: