Jakarta

[Jakarta][bleft]

Bisnis

[Bisnis][bleft]

Tekno

[Tekno][bleft]

Lingkungan

[Lingkungan][bleft]

Sport

[Sport][bleft]

Politik

[Politik][bleft]

Internasional

[Internasional][bleft]

Kolom

[Kolom][bleft]

Islam; Nafas Sejati Nusantara

image

Oleh : Edgarhamas*

Saat di Sumbawa, beberapa kali istri saya mengajak saya ke Istana Dalam Loka yang dibangun pada tahun 1885 di masa Sultan Muhammad Jalaluddin III. Zaman itu, Umat Islam masih dalam naungan Kesultanan Utsmani di Istanbul sana.
Pada awalnya saya kira itu hanya rumah panggung biasa. Namun istri saya bilang, Istana Dalem Loka ini adalah rumah panggung terbesar di dunia. Dan ternyata, ini bukankah sekadar rumah. Tempat ini adalah istana sang Sultan. Tepat di sampingnya persis, adalah Masjid kebanggaan Kesultanan Sumbawa sejak dulu hingga sekarang: Masjid Nurul Huda.

Saya pun lagi-lagi mengira Masjid Nurul Huda hanya masjid baru. Ternyata tidak. Masjid ini telah lama berdiri sejak zaman kolonialisme Belanda, namun mengalami pemugaran total hingga kesan kunonya hilang.

Bayangkan,

Istana dan masjid berdampingan. Negara dan agama berharmoni. Raja dan ulama saling kunjung mengunjungi. Istana Dalam Loka jadi saksi sejarah yang menggambarkan pada kita bahwa ruh sejati Indonesia itu, ternyata agama yang mewarnai negara, negara yang menjaga agama. Dan itu, adalah energi raksasa yang mengguncang Belanda.

Saya semakin kaget ketika menemukan fakta, bahwa filosofi rancangan istana ini adalah slogan yang terkenal, “Adat barenti ko syara’, Syara’ barenti ko Kitabullah”, adat ditopang dari syariat. Dan syari'at bersumber dari Kitabullah. Senada dengan slogan masyarakat muslim Minangkabau hingga masa kini.

Islam benar-benar nyata menjadi nafas undang-undang dan kebijakan raja di zaman dulu. Indonesia kita yang majemuk ini memang warna-warni, banyak suku dan banyak kelompok. Namun, semangat solidaritas keislaman meruntuhkan sekat-sekat kedaerahan itu menjadi: Indonesia.

Clue-clue seperti ini bukan hanya ada di Sumbawa. Hal serupa bisa kita dapatkan dalam tradisi-tradisi kedaerahan kita di Sumatera, Sulawesi, Jawa, Madura, Sunda. Itulah mengapa selepas reformasi, ketika setiap orang berani menampakkan identitasnya, tenyata rakyat Indonesia masih ‘ijo royo-royo’, masih hijau dalam Islamnya walau dihempas kesana kemari. Sebab memang itulah nafas sejati kita.

Mari, belajar lagi sejarah. Rangkai lagi benang merah. Tenun lagi yang terkoyak. Asah lagi yang tumpul. Bangun lagi yang runtuh. Indonesia kita bhinneka tunggal ika. Hormati masing-masing keyakinan, namun tak lupa dengan jati diri sendiri.

Menjadi muslim dan menjadi Indonesia adalah satu hal yang tak akan terpisah, tak akan pernah berselisih. Mereka yang “main gebuk”-lah yang harusnya sadar diri, mengapa harus merobek keindahan yang selama ini telah menyatu harmonis? ***

*Penulis adalah Mahasiswa Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir dan Alumnus SMPIT Ihsanul Fikri Mungkid Magelang

Tidak ada komentar: