Jakarta

[Jakarta][bleft]

Bisnis

[Bisnis][bleft]

Tekno

[Tekno][bleft]

Lingkungan

[Lingkungan][bleft]

Sport

[Sport][bleft]

Politik

[Politik][bleft]

Internasional

[Internasional][bleft]

Kolom

[Kolom][bleft]

Ekonomi Syariah Sebagai Solusi Krisis Keuangan Dunia

Ilustrasi pusat perbelanjaan di luar negeri. Foto wikimedia.org
JAKARTA, MJ- Rontoknya sistem ekonomi kapitalis yang ditandai dengan krisis yang melanda sejumlah negara Eropa dan Amerika, menjadi tantangan dan sekaligus peluang bagi pengembangan ekonomi alternative seperti sistem ekonomi syariah. 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada pencanangan Gerakan Ekonomi Syariah (GRES) di lapangan Monas, Jakarta, Minggu (17/11) pagi,  menilai, sistem ekonomi syariah dapat menjadi salah satu solusi dalam mengurangi ataupun mencegah terjadinya krisis keuangan global.

Dikatakan, perekonomian dunia yang saat ini terinteragrasi antara negara memang memberikan manfaat, namun juga rawan terjadi goncangan, ketika misalnya ada beberapa negara yang mengalami krisis keuangan atau rontok, maka negara lain juga akan terkena imbasnya. “Belajar dar fenomena krisis ekonomi dunia yang datang siling berganti. Sudah selayaknya sistem, kebijakan dan etika perekonomian perlu kita perbaiki dan kita lengkapi,”ujarnya.

Menurut SBY, ekonomi syariah dapat meningkatkan resiliency ekonomi nasional terhadap dampak negatif gejolak keuangan global yang rasakan akhir-akhir ini. 
Alhamdulillah, selama 9 tahun periode pemerintahannya, berbagai inisiatif pengembangan yang ditempuh pemerintah beserta regulator, parlemen dan berbagai stakeholder, telah mendorong perkembangan sistem ekonomi syariah secara signifikan,”tuturnya.   

Aset industri perbankan syariah diakui SBY, juga meningkat hampir 14 kali, atau rata-rata tumbuh 151% per tahun. Meskipun industri ekonomi syariah telah menunjukan perkembangan yang sangat signifikan, namun ukuran industri keuangan syariah Indonesia baru sekitar 40 miliar dolar Amerika Serikat.  “Tentunya, jumlah ini masih sangat kecil bila melihat potensi yang dimiliki,”ujarnya. 

Pada kesempatan itu, SBY mengatakan, mendukung upaya perumusan Cetak Biru Keuangan Syariah Indonesia. “Saya berharap cetak biru ini sejalan dengan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dan Jangka Panjang (RPJP). Selain itu, cetak biru juga perlu harmonisasi dengan sejumlah program nasional yang tengah kita galakkan saat ini, utamanya MP3EI,” tandasnya. (Marwan Azis)

Tidak ada komentar: