Jakarta

[Jakarta][bleft]

Bisnis

[Bisnis][bleft]

Tekno

[Tekno][bleft]

Lingkungan

[Lingkungan][bleft]

Sport

[Sport][bleft]

Politik

[Politik][bleft]

Internasional

[Internasional][bleft]

Kolom

[Kolom][bleft]

Presiden SBY Lontarkan Wacana Pemindahan Ibu Negara

Saint Petersburg, MJ- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melontarkan wacana agar penggantinya pasca-Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2014 membuka kemungkinan pemindahan Ibu Negara dari Jakarta. Presiden mengaku terinspirasi setelah melakukan kunjungan kerja ke sejumlah negara sejak sepekan lalu.


"Saya berpikir tugas Presiden berikutnya, bila secara ekonomi sudah kuat, sudah tidak ada solusi yang baik untuk Jakarta, dan melihat dari urgensi, tidak keliru memikirkan tempat yang bisa bangun pusat pemerintahan baru," kata Presiden Yudhoyono seperti dilaporkan wartawan Metro TV Iqbal Himawan dari Saint Petersburg Rusia, Sabtu (7/9).

Sebelum menghadiri KTT G-20 di Saint Petersburg Rusia, Presiden Yudhoyono mengunjungi Kazakhstan dan Polandia. Astana yang merupakan Ibu Kota Kazakhstan, ternyata menginspirasi Presiden Yudhoyono tentang wacana pemindahan Ibu Negeri dan juga pusat pemerintahan.

Menurut Presiden, hasil positif tata kota yang lebih baik akibat pemindahan ibu negeri juga terlihat di Malaysia, Australia, dan Turki. Menurut dia, Jakarta tetap dibenahi sebagai pusat bisnis, perdagangan, jasa, dan pariwisata.

Presiden menambahkan, meskipun membutuhkan biaya material yang tinggi dan ongkos politik yang besar, pemindahan mungkin dilakukan jika kebutuhannya sudah mendesak demi kepentingan bangsa dan negara.

Wacana pemindahan Ibu Negeri sebenarnya sudah pernah terlontar pada era kepresidenan sebelumnya, seperti saat zaman Soekarno muncul rencana memindahkan Ibu Negeri ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Saat Presiden Soeharto juga pernah muncul wacana pemindahan pusat pemerintahan ke kawasan Sentul, Jawa Barat.

Presiden Yudhoyono mengaku sengaja tidak mengekspose wacana tersebut dan hanya melakukan kajian melalui timnya, karena adanya tentangan. "Hingga lima tahun lalu, diam-diam saya memikirkan sudah saatnya Indonesia membangun pusat pemerintahan yang baru di luar Jakarta. Saya memilih diam, karena biasanya apapun ide baru, langsung didebat dan dipersalahkan. Sebaliknya, kalau bilang tidak perlu pindah, juga didebat," kata Presiden. (Mtv).