Jakarta

[Jakarta][bleft]

Bisnis

[Bisnis][bleft]

Tekno

[Tekno][bleft]

Lingkungan

[Lingkungan][bleft]

Sport

[Sport][bleft]

Politik

[Politik][bleft]

Internasional

[Internasional][bleft]

Kolom

[Kolom][bleft]

Ketika SBY Bertemu Pemred Media

Foto : dok Google
JAKARTA, MJ-Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengadakan pertemuan dengan sejumlah pimpinan redaksi  media di Istana Kepresidenan  hari ini.

SBY bercerita pertemuan ini digagas oleh pemimpin redaksi sendiri. Saat itu SBY berkunjung ke Jerman dan Hungaria. Saat kunjungan itu, SBY banyak berdialog secara formal dan dan non formal kepada pemred-pemred.

"Kita berbicara, ada kritik dari pers. Oleh karena itu waktu itu ada pemikiran mengapa tidak bikin secara berkala sehingga ada komunikasi yang lebih baik antara saya, wapres, dan semua yang sedang jalankan roda pemerintahan dengan para pemimpin media massa,"  kata SBY seperti dilansir Jaring News.

Pertemuan itu berlangsung selama 2,5 jam dan berakhir menjelang Sholat Jumat. Dalam pertemuan itu antara SBY dan Pemred membicarakan solusi terhadap masalah-masalah negara.

"Pimpinan media tentu berkontribusi pada semua ranah kehidupan di negeri ini, termausk melakukan kontrol sosial, mewadahi aspirasi rakyat, ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut menghadirkan etika dan nilai-nilai demokrasi yang baik," kata SBY membuka pertemuan.

Presiden SBY menginginkan hubungan media dan pemerintah bisa berjalan seiring dalam membangun bangsa "Bukan jauh di mata dekat di hati, apalagi benci tapi rindu," katanya seperti dilansir Kantor Berita Antara.

Menurut Presiden media sebagai pilar demokrasi juga turut berkontribusi bagi pencapaian tujuan negara seperti yang tertera dalam amanat konstitusi, meski memiliki fungsi berbeda.

"Tentu berbeda, kami berada di ranah eksekutif, yang kami dapatkan dari UUD 45 khususnya Presiden sebagai kepala pemerintahaan menjalankan tugas, sedangkan pemimpin redaksi berkontribusi pada semua ranah kehidupan di negeri ini, termasuk melakukan kontrol sosial mewadahi aspirasi rakyat dan kemudian mengkomunikasikannya, ikut mencerdaskan bangsa, ikut menghadirkan etika dan nilai-nilai demokrasi yang baik dan sebagainya," kata Presiden.

Dalam pertemuan selama 2,5 jam tersebut, SBY didampingi Wapres Boediono, Menko Polhukam Djoko Suyanto, Mensesneg Sudi Silalahi dan Seskab Dipo Alam.

Sedang Ketua Forum Pemred Wahyu Muryadi dari Majalah Tempo didampingi antara lain Akhmad Kusaeni (LKBN Antara), Asro Kamal Rokan (Jurnal Nasional), Don Bosco Salamun (Berita Satu), Nurjaman Mochtar (SCTV), Heddy Lugito (Gatra), Farhat Syukri (TVRI), Niken dari RRI, Pemred Metro TV Putra Nababan, dan Pemred TVOne Totok Suprianto. 

Pada kesempatan tersebut SBY juga mengajak silaturahmi dengan boss-boss media itu bisa lebih sering dilakukan. SBY mengajak para Pemred untuk berkumpul secara lebih santai di Istana Bogor atau Cipanas bulan Mei 2013.

"Nanti saya buatkan nasi goreng spesial dengan resep khusus keluarga Pacitan," katanya.

Ketua Forum Pemred Wahyu Muryadi menambahkan bahwa selain menikmati nasi goreng masakan presiden, pertemuan di Istana Bogor atau Cipanas itu sekalian "bakar-bakar jagung, nyanyi-nyanyi" dan besok paginya menanam pohon penghijauan. "Kami juga mengundang bapak Presiden untuk hadir dan bicara pada Pertemuan Puncak Pemred se-Indonesia di Nusa Dua Bali bulan Juni mendatang," kata Wahyu. Presiden SBY menyatakan siap memenuhi undangan tersebut.

Sebelumnya, Pemred LKBN Antara Akhmad Kusaeni menyampaikan harapan agar keakraban hubungan presiden dengan media bisa terus berlangsung sampai 2014 dan seterusnya. "Hubungan presiden dengan media sepanjang sejarah seperti kisah cintai yang selalu diwarnai benci dan rindu," katanya.

Menurut Kusaeni, hubungan presiden dan media yang saling merindukan karena keduanya memiliki komitmen kepada rakyat dan publik serta kepada nilai-nilai dan konstitusi. "Presiden mengabdi dan melayani rakyat, sedangkan loyalitas pertama wartawan adalah kepada publik atau rakyat. Jadi kita memiliki komitmen yang sama atau satu perahu," kata Kusaeni.

Dengan komitmen yang sama tersebut, Presiden dan media bisa berjalan bersama dan seiring. Hubungan berubah menjadi benci ketika komitmen itu diingkari.

Sejarah membuktikan, lanjut Kusaeni, jika seorang presiden mulai menyimpang dari rakyat dan menabrak rambu-rambu konstitusi, pers mulai membenci seperti pada masa-masa akhir pemerintahan Soeharto dan Gus Dur. "Saya yakin bapak presiden akan mengakhiri tugas dengan khusnul khotimah,"kata Akhmad Kusaeni.