Jakarta

[Jakarta][bleft]

Bisnis

[Bisnis][bleft]

Tekno

[Tekno][bleft]

Lingkungan

[Lingkungan][bleft]

Sport

[Sport][bleft]

Politik

[Politik][bleft]

Internasional

[Internasional][bleft]

Kolom

[Kolom][bleft]

Bantuan Makanan di Rusun Marunda Akan Distop

Foto : Beritajakarta.com
JAKARTA, MJ-Untuk memberikan kemandirian kepada korban banjir Muara Baru, Penjaringan, yang direlokasi ke Rusun Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, Sudin Sosial Jakarta Utara akan menghentikan bantuan makanan siap saji kepada warga tersebut terhitung mulai tanggal 28 Februari 2013 mendatang.

Terlebih, saat ini warga juga telah mendapat bantuan sembako, kompor gas dan peralatan dapur untuk memasak secara mandiri.

Kepala Suku Dinas Sosial Jakarta Utara, Ika Lestari Aji mengatakan, pihaknya akan
menghentikan bantuan nasi bungkus kepada 446 kepala keluarga (KK), karena mereka telah mendapatkan bantuan peralatan dapur dan sembako dari Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, beberapa waktu lalu.

"Pemerintah telah memberikan fasilitas seperti peralatan dapur, kompor gas, TV, kulkas, sembako, dan meja makan kepada mereka. Sehingga dengan pertimbangan itu kami akan menyetop pelayanan dapur umum dan bantuan nasi bungkus kepada mereka, agar mereka mandiri dan bisa masak sendiri," ujar Ika, Jumat (22/2).

Meski akan menyetop bantuan tersebut, sambung Ika, namun pihaknya akan tetap memantau warga dan menyalurkan bantuan langsung jika ada dermawan yang datang memberikan bantuan. "Setelah masa pelayanan dapur umum habis, kami tetap mengerahkan petugas di dapur umum. Mereka akan mendata warga miskin yang belum makan karena keterbatasannya. Jika saat itu masih dibutuhkan akan kami kondisikan meskipun sedikit. Kasihan kalau mereka tidak sampai makan," katanya.

Ia menyebut, sebelum bantuan dihentikan, pihaknya telah menyalurkan 1.000 nasi bungkus kepada warga setiap satu kali waktu makan. Dalam sehari, warga mendapatkan jatah tiga kali makan di pelayanan dapur umum di Cluster Blok 7 Rusun Marunda. "Kami hanya memprioritaskan korban banjir sebanyak 446 KK yang melakukan pendaftaran pertama di Blok 7, 8, dan sebagian lagi di Blok 6, 2 dan 3, karena rumahnya kebanjiran dan tidak bisa kembali karena rumahnya rusak," ungkapnya.

Sementara itu, Lukman (38) warga Cluster B Blok 8 Lantai 2 Rusun Marunda mengaku keberatan jika sampai bantuan makanan itu dihentikan. Pasalnya, dirinya kini sudah tidak bekerja lagi sebagai sopir pribadi, sehingga tidak punya uang untuk membeli makanan. "Kalau makanan distop saya bingung mau makan pakai apa, memang masih ada beras, tapi beli lauknya gimana? Saya harap pemerintah bisa mempertimbangkan itu," tandasnya. (Al Furqon/Beritajakarta.com)