Jakarta

[Jakarta][bleft]

Bisnis

[Bisnis][bleft]

Tekno

[Tekno][bleft]

Lingkungan

[Lingkungan][bleft]

Sport

[Sport][bleft]

Politik

[Politik][bleft]

Internasional

[Internasional][bleft]

Kolom

[Kolom][bleft]

Halo Jakarta, Kami Weezer

Weezer. Foto : ROL/Ahmad Muchlis

JAKARTA, MJ- Demam alternatif rock melanda dunia berkat penampilan band asal Seattle, AS, atau yang dikenal dengan Seattle Sound. Band macam Nirvana, Pearl Jam, Soundgarden dan lainnya begitu digdaya. 
Di tengah, wabah itu muncul band asal Los Angeles, Weezer.


Band ini memang tidak seperti nama-nama di atas, tapi cukup dikenal dengan kesuksesan Blue Album. Sederet hits, seperti 'Buddy Holly', 'In The Garage', 'Holiday' dan 'Only In Dream' diperdengarkan ke seluruh dunia.

Sayang, Indonesia baru mendapat kesempatan mendatangkan Weezer pada 8 Januari 2013. Weezer sadar terlalu lama mereka tidak menyambangi pengemar mereka di Indonesia. Pada 1997, kesempatan itu ada namun mereka hanya singgah di Thailand. Karena itu, sebagai 'rasa bersalah' lantaran terlambat datang, Weezer menyajikan narasi nostalgia versi mereka sendiri.

Pada konser mereka di Lapangan D, Senayan, Jakarta, Selasa (8/1), band yang digawangi Rivers Cuomo (Vokal/ Gitar), Brian Bell (Gitar), Scott Shriner (Bass) dan Pat Wilson (Drum) mengajak penggemar mereka di Jakarta, untuk merasakan 'gairah' alternatif rock ala Weezer. Mereka membawakan lagu-lagu secara acak mulai dari 'Perfect Situation' (Maladroit), 'Dope Nose' (Green Album), 'Accross The Sea' (Pinkerton) dan lainnya.

Sebelum itu, Rivers sengaja menengok sejenak pengemarnya yang sejak sore tadi sudah mulai berdatangan. Ia abadikan kerumunan penggemarnya via fotografer band yang berada di atas panggung. Setelah itu, ia kembali mengecek alat-alat, lalu membawa bola sembari bermain. Sesekali, penonton berteriak histeris karena ulahnya.

Setelah itu, Rivers memulai konser dengan distorsi gitar Fender Stratoscaster miliknya. Bergembiralah para penggemarnya yang cukup sabar menanti. Berulang kali dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata, ia mengucapkan "halo," lalu ia memperkenalkan satu per satu anggota band, tentunya dengan bahasa Indonesia. "Haloo, apakabar," kata Rivers.

Setiap jeda lagu, Rivers punya narasinya sendiri untuk mengajak penggemarnya beralih dari satu lagu ke lagu lainnya. Ia dengan asal memainkan lagu yang 'sedikit asal'. Tapi penggemarnya yang di bawah panggung menerima narasi Rivers dengan histeria. Pada jeda lagu ke sekian, ia mainkan lagu 'Heavy Rotation', lagu yang cukup populer di kalangan penggemar girl band.

Di akhir lagu 'Tired of Sex', Rivers meminta istirahat kepada penonton guna menyiapkan konser nostalgia sesungguhnya. Penonton pun terdiam, layar yang bertuliskan Weezer perlahan turun.

Tak beberapa lama, muncullah foto-foto nostalgia bagaimana band yang sudah menelurkan 10 album itu memulai karir, itu termasuk bagaimana proses mereka membuat Blue Album di tengah kepungan Seattle Sound.

Itulah Weezer, itulah cara mereka mengajak penggemarnya mengenal lebih dekat, musik yang mungkin kini tak lagi begitu menggelegar.  (Agung Sasongko/Djibril Muhammad/ROL)